HARIANEXPRESS, PHILADELPHIA – Tim nasional Brazil berhasil mengalahkan Haiti 3-0 dalam laga kedua Piala Dunia di Lincoln Financial Field, memastikan posisi puncak Grup C. Sabtu, (20/06/2026)
Kemenangan Brazil atas Haiti didapat berkat dua gol dari Matheus Cunha dan satu gol dari Vinicius Junior. Hasil ini menempatkan tim asuhan Carlo Ancelotti di puncak Grup C dengan empat poin dari dua pertandingan.
Haiti menjadi tim pertama yang tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah menderita kekalahan kedua. Sebelumnya, Brazil bermain imbang 1-1 dengan Maroko di laga pembuka mereka.
Performa Brazil dinilai jauh lebih baik dibandingkan saat melawan Maroko. Namun, tim khawatir dengan cedera hamstring yang dialami Raphinha di babak pertama.
Penyerang Barcelona itu ditarik keluar lapangan di Philadelphia setelah 40 menit pertandingan. Sementara itu, pelatih Ancelotti optimistis Neymar dapat terlibat di pertandingan grup terakhir Brazil melawan Skotlandia pada 24 Juni.
“Yes, Neymar will be training tomorrow (Sunday) individually and then on Monday he will be training with the rest of the team. He will be available for the match against Scotland.” ujar Carlo Ancelotti (Pelatih Brazil) di Philadelphia, Jumat (19/06/2026).
Neymar, yang kini berusia 34 tahun, absen dalam dua pertandingan awal Brazil. Ia sedang dalam masa pemulihan dari cedera betis yang dideritanya.
Brazil terlihat lebih padu dan efektif dalam pertandingan ini. Performa mereka sangat jauh membaik dibandingkan saat menghadapi Maroko.
Melawan Maroko, Ancelotti memilih Igor Thiago sebagai penyerang tengah tetap, yang menyebabkan kurangnya pergerakan dan struktur. Vinicius Junior terisolasi di sayap, sehingga mengurangi dampaknya.
Di Philadelphia, Ancelotti kembali menurunkan Matheus Cunha, pilihan yang diharapkan banyak orang untuk memimpin lini serang Brazil. Cunha menunjukkan pergerakan yang memungkinkan Vinicius bebas mencari ruang.
Ia juga mundur untuk berkombinasi dengan gelandang, membantu tim lebih mudah bergerak maju, serta terlibat dalam aspek defensif permainan. Cunha pun mencetak dua gol krusial bagi timnya.
Bagi Haiti, ini adalah penampilan kedua mereka di Piala Dunia setelah 52 tahun. Mereka datang dengan latar belakang negaranya yang dilanda gejolak politik dan kekerasan selama hampir satu dekade.
Haiti berhasil lolos dari grup Concacaf yang berisi tim-tim dengan silsilah Piala Dunia lebih baru seperti Kosta Rika dan Honduras. Tim mereka sebagian besar terdiri dari pemain-pemain dari liga kecil yang kurang dikenal.
Meskipun kalah tipis dari Skotlandia di laga pembuka, mereka tidak menyerah saat melawan Brazil. Haiti bahkan sempat memberikan beberapa ‘pukulan’ di babak kedua.
Raphinha tumbang di menit ke-38 dan segera memberi isyarat kepada bangku cadangan untuk diganti. Ekspresi wajahnya menunjukkan cedera tersebut tidak hanya bersifat pencegahan.
Absennya Raphinha akan menjadi pukulan bagi Brazil di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Meskipun sering bermasalah dengan cedera, kualitas dan kemampuan Raphinha untuk membangun tempo permainan tidak diragukan.
Jika Raphinha tidak bugar, Ancelotti memiliki beberapa pilihan pengganti. Salah satunya adalah Rayan, pemain sayap Bournemouth, atau Luiz Henrique yang memiliki profil serupa.
Emily Olsen berpendapat bahwa Matheus Cunha harus menjadi starter. Ancelotti melakukan dua perubahan dari pertandingan pembuka melawan Maroko: Danilo menggantikan Roger Ibanez, dan Cunha dipilih di lini depan menggantikan Igor Thiago.
Cunha merupakan pemain reguler dalam susunan pemain Ancelotti, dan kemenangan atas Haiti menunjukkan alasannya. Melawan Maroko, Thiago memiliki statistik xG 0,66 dari 62 menit bermain, dengan satu tembakan tepat sasaran dan tanpa menciptakan peluang.
Sebaliknya, Cunha menghabiskan 64 menit di lapangan Philadelphia, menghasilkan dua gol. Ia juga menunjukkan mengapa Brazil mungkin membutuhkan opsi yang lebih vertikal di samping Vinicius dan Raphinha.
Brazil memiliki kelemahan di lini tengah, dan menemukan cara untuk menembus lini pertahanan lawan adalah penting. Cunha mampu mundur untuk memenangkan bola di lini tengah dan maju untuk menyelesaikan peluang, tidak seperti Thiago yang cenderung menunggu bola di depan.
Pertandingan terakhir Grup C akan berlangsung pada 24 Juni, keduanya dimulai pukul 6 sore ET (11 malam BST). Brazil akan menghadapi Skotlandia di Miami, sementara Maroko melawan Haiti di Atlanta.
Tim yang finis pertama akan bermain melawan runner-up Grup F di babak gugur pertama pada 29 Juni di Houston. Sementara itu, tim yang finis kedua akan bertemu juara Grup F di Monterrey pada tanggal yang sama.



